SARANA365 MERUPAKAN SITUS JUDI EURO | MENERIMA DEPOSIT VIA PULSA, OVO, DOKU, DANA, PAYPRO, GOPAY | WWW.LIGASARANA365.NET | WA : +6281269419478

Kamis, 09 Maret 2017

HARI JADI PERSIB KE 84 TAHUN TANPA GELAR PIALA PRESIDEN 2017


HARI JADI PERSIB KE 84 TAHUN TANPA GELAR PIALA PRESIDEN 2017

Beritasarana365 - PERAYAAN hari jadi ke-84 Persib Bandung pada 14 Maret 2017 tentu saja akan menjadi lebih istimewa dengan kehadiran trofi juara Piala Presiden 2017. Sayang, rencana untuk menyempurnakan peringatan hari bersejarah dengan memboyong lagi lambang supremasi tertinggi turnamen pramusim itu berantakan hanya sepekan menjelang pesta. 

Persib gagal mempertahankan gelar setelah secara tragis disingkirkan Pusamania Borneo FC melalui drama adu penalti laga semifinal kedua di Stadion Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung, Minggu 5 Maret 2017.

Kalah dan kehilangan gelar juara di hadapan pendukung sendiri apalagi melalui drama adu penalti, tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Wajar jika derai air mata bercucuran membasahi wajah sedih para pemain, pelatih, hinggga puluhan ribu bobotoh yang berjejal memenuhi stadion malam itu.

Namun tentunya, kegagalan menyakitkan ini layak menjadi bagian evaluasi Persib untuk segera berbenah diri agar bisa tampil dengan performa lebih baik pada kompetisi liga nanti. Bagaimanapun sejumlah sisi minor pada performa  ikut ambil bagian menyebabkan Persib tereliminasi.

Secara hasil Persib memang menuai rekor sempurna, setidaknya hingga babak 8 Besar. Empat kemenangan diraih, sembilan gol dicetak, dengan catatan kebobolan tiga kali untuk menjejak semifinal.

Namun tampak jelas Persib tidak tampil konsisten dari satu laga ke laga lainnya. Bahkan perbedaan kualitas performa juga selalu tampak pada satu laga. Persib biasanya kepayahan pada babak pertama ketika menurunkan tiga pemain muda sesuai regulasi turnamen. 

Performa mereka baru membaik setelah dua pemain senior masuk menggantikan dua pemain muda. Grafik performa Persib merosot pada babak 8 besar ketika mereka kewalahan menghadapi perlawanan ngotot Mitra Kukar sebelum akhirnya menang 3-2. 

Titik nadir performa Persib tampak kentara saat dihajar 1-2 oleh Pusamania Borneo FC pada laga semifinal pertama di Stadion Segiri, Samarinda, Kamis 2 Maret 2017. Seperti diakui Pelatih Djadjang Nurdjaman, skuadnya tampil buruk. Performa terburuk Persib dalam tiga tahun terakhir, begitu bek tengah Vladimir Vujovic mendefinisikan penampilan payah Persib di Segiri. 

Persib tak mampu ke luar dari tekanan, kebingungan saat menguasai bola, dan sangat tumpul dalam hal agresivitas. Parahnya organisasi pertahanan juga amburadul menghadapi tekanan bertubi-tubi yang dilancarkan lawan. Padahal lawan yang dihadapi adalah lapis kedua skuat Pusamania Borneo FC. 

Hukuman akhirnya harus ditelan oleh Persib pada laga semifinal kedua. Meski mampu tampil lebih dominan, sangat berbeda drastis ketimbang di Samarinda, Persib nyatanya masih terlalu banyak membuang peluang. Deretan ancaman dibuat, tapi tidak sedikit eksekusi akhir yang masih mengarah atau mudah dibaca penjaga gawang. Dua peluang emas yang digagalkan tiang gawang menjadi pertanda kuat kesialan. 

Setelah berhasil mencetak satu gol yang akan cukup menuntun mereka ke final, Persib gagal memperbaiki organisasi pertahanan. Persib mencelakai dirinya sendiri setelah teledor mengantisipasi keahlian PBFC II yang piawai mencetak gol melalui situasi bola mati. 

Maka lahirlah gol penyeimbang seorang bek tengah PBFC yang merangsek ke mulut gawang untuk menyambut umpan sepak pojok. Meski bisa kembali unggul 2-1 dan tetap menang pada babak normal hingga perpanjangan waktu, Persib akhirnya harus menelan pahit keterpurukan di hadapan pendukung sendiri karena kalah adu penalti.

Kekalahan pada pada babak adu nasib ini bisa saja dihindari andaikan Persib bisa memanfaatkan keunggulan materi pemain senior mereka. Sekadar tahu, Persib dihuni oleh para pemain tenar dengan pengalaman menaklukkan pertarungan mental drama penalti saat menjuarai Liga Super indonesia 2014. 

Anehnya para algojo yang dipilih untuk maju di awal, justru (di antaranya) adalah pemain muda yang tak kaya pengalaman menghadapi tekanan besar adu penalti, yakni Febri Hariyadi dan Kim Jeffrey Kurniawan yang akhirnya gagal menjalankan eksekusi. 

Mengapa para algojo juara LSI 2014 seperti Supardi Nasir, Tony Sucipto, hingga Achmad Jufriyanto tidak maju duluan sebagai eksekutor untuk memompa mental skuad? Hanya Tuhan dan Djadjang Nurdjaman yang tahu jawabannya. 

Yang pasti, sejumlah pekerjaan rumah harus diselesaikan Persib jika ingin mempertahankan gelar juara liga. Ketiadaaan perancang serang mumpuni menjadi salah satu titik lemah. Persib memang tidak memiliki pengatur serangan tulen dengan tipikal pemain nomor 10, yang mampu melakukan determinasi individu, melewati kawalan pemain untuk menusuk ke wilayah pertahanan lawan, punya umpan akurat sekaligus mahir mencetak gol.

Selain kreator serangan, sisi minus lainnya yang kentara dalam partisipasi Persib di turnamen ini adalah ketiadaan opsi alternatif striker murni. Persib hanya punya Sergio van Dijk sejak ISC 2016 lalu. Sergio dihantam cedera lutut sehingga harus absen dari babak 8 besar sampai turnamen rampung.

Peran Sergio gagal dimainkan Shohei Matsunaga, Tantan, dan Angga Febriyanto yang semula diharapkan dapat menjadi opsi alternatif striker murni. Maka ketika Sergio harus mendekam di ruang perawatan lini serang Persib pun makin kepayahan.

Liga 1 dengan format kompetisi penuh akan segera digelar. Waktu sebulan hingga dua bulan menuju kompetisi selayaknya dimanfaatkan oleh Persib sebagai juara bertahan untuk memperbaiki semua titik lemah mereka. Jika tidak Persib dan bobotoh harus siap kembali meratapi pedihnya kehilangan gelar.



    Choose :
  • OR
  • To comment
1 komentar:
Write komentar